Tak berkatagori

YUNI YANG HIDUP SEBAGAI PEREMPUAN

Diskursus tentang perempuan dan kesetaraan gender terus berkembang. Tidak hanya berlangsung di ruang-ruang akademik, tetapi juga sudah meluas hingga ke ruang publik. Banyak cara yang digunakan untuk memberi kesadaran pada masyarakat mengenai hal ini. Film menjadi salah satu media yang digunakan untuk mencapainya.

Film Yuni menjadi topik hangat yang banyak diperbincangkan saat perilisannya. Film ini sendiri sebelumnya telah berhasil mendapatkan penghargaan Platform Prize dalam ajang festival film internasional di Toronto International Festival Film (TIIF) 2021. Prestasi lainnya, film garapan Kamila Andini ini dipilih sebagai film yang mewakili Indonesia pada Oscar 2022 dengan nominasi Best International Feature Film.

Yuni (Arawinda Kirana) merupakan seorang remaja yang hidup dalam lingkup kehidupan sosial dan budaya masyarakat Serang. Ia merupakan sosok yang cerdas dan berani. Kehidupan Yuni sama seperti remaja lain seusianya. Dekat dengan kemajuan teknologi khususnya media sosial, mendambakan kebebasan, pencarian jati diri, dan mulai tertarik dengan lawan jenis. Hari-hari Yuni diisi dengan berbagai kegiatan bersama teman-temannya disertai dengan percakapan polos khas remaja yang sarat dengan rasa ingin tahu yang tinggi.

Sumber gambar: Instagram @fourcoloursfilms

Sebentar lagi, Yuni akan lulus SMA dan berkeinginan kuat untuk bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Keinginan ini disambut baik oleh gurunya, Bu Lies (Marissa Anita). Berbagai informasi dan bimbingan pun diberikan oleh Bu Lies. Salah satunya, yaitu ada persyaratan tidak menikah untuk mendapatkan beasiswa.

Beranjak dewasa, Yuni mulai dihadapkan dengan berbagai ekspektasi yang mesti dipenuhi. Yuni, yang seorang perempuan, harus menentukan pilihan atas apa yang berada di luar kendalinya. Satu hari saat pulang sekolah, ia mendapati rumah yang ditinggalinya bersama sang nenek (Nazla Thoyib) didatangi oleh orang yang berniat untuk melamarnya. Laki-laki itu adalah Iman (Muhammad Khan), pekerja proyek sekaligus tetangga yang baru ia kenal. Lamaran ini tentu saja ia tolak. Buntutnya, berbagai cibiran tetangga dan teman-teman sekolah harus ditelan atas keputusan tersebut.

Lamaran kedua pun menyusul. Kali ini, laki-laki yang hendak melamarnya bernama Mang Dodi (Toto ST Radik). Seorang pria yang sudah berusia lima puluh tahun dan hendak menjadikan Yuni sebagai istri kedua. Tidak tanggung-tanggung, mahar sebesar 50 juta rupiah ikut serta ditawarkan. Sekali lagi, lamaran tersebut juga ditolak oleh Yuni. Tentu saja berbagai macam sindiran, tudingan, serta ancaman mitos dilayangkan. Namun Yuni tetap bersikeras ingin melanjutkan cita-citanya menimba ilmu di perguruan tinggi.

Yuni bukannya tidak tertarik dengan lawan jenis. Sebenarnya, ia memiliki seseorang yang dikagumi. Namanya Pak Damar (Dimas Aditya), seorang guru Bahasa Indonesia di sekolahnya. Pak Damar membantu Yuni untuk memperbaiki kekurangan nilai pada mata pelajaran tersebut dengan memberi tugas menganalisa “Hujan di Bulan Juni”. Sebuah puisi sarat makna yang luar biasa oleh seorang maestro Sapardi Djoko Damono.

Rasa kagum Yuni terhadap Pak Damar mengantarkan kenyataan baru yang tidak disangkanya. Kenyataan tersebut membawa Yuni pada sebuah lamaran ketiga yang diajukan oleh Pak Damar. Tekanan serta ancaman atas mitos di masyarakat membawa Yuni pada rasa frustasi dan kesulitan untuk mengungkapkan pikiran dan mengutarakan keputusannya sendiri. Batin Yuni sangat tertekan.

Yuni yang masih remaja dihadapkan pada realitas dirinya sebagai perempuan dalam kehidupan sosial di masyarakat. Kehidupan Yuni juga dekat dengan permasalahan yang dihadapi oleh perempuan secara umum. Perempuan yang menikah muda, mengalami kekerasan, harus memenuhi ekspektasi masyarakat, memiliki peran subordinat, beban ganda yang harus ditanggung, dan hanya dilibatkan dalam persoalan domestik. Mereka tidak memiliki pilihan atas hidupnya. Peran mereka dalam kehidupan sosial semakin sempit dan termarginalkan.

Realitas sosial yang terjadi dalam kehidupan Yuni sesungguhnya bukanlah sesuatu yang turun dari langit. Banyak faktor yang turut serta membentuk, mempengaruhi, dan melanggengkan sistem ini. Budaya patriarki yang telah tumbuh subur serta sesama perempuan yang ikut mengamini keberadaannya telah terpatri sebagai satu bentuk sistem budaya. Perempuan dipersepsikan dan ditempatkan semata-mata hanya berfungsi secara reproduktif dan dibebankan atas pekerjaan domestik. Hak mereka untuk mengaktualisasi dirinya pun dimatikan. Sayangnya, siklus ini sudah terjadi secara turun-temurun.

Film Yuni dengan lantang menyuarakan mereka yang tidak diberi kesempatan untuk bersuara. Kemampuan dalam memaparkan masalah yang kompleks secara sederhana menjadi sebuah kekuatan. Cara pendeketan terhadap subjek sensitif seperti seks remaja dan perjodohan disampaikan dengan apik melalui kaca mata seorang remaja. Melalui dialog yang lekat dengan keseharian, penonton dapat menyelami masalah yang sebenarnya dekat dengan kehidupan namun masih belum bisa menemukan titik akhir. Film Yuni bukan hanya sekadar tontonan. Namun merupakan sebuah puisi yang harus didengar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *