Jelajah Buku,  Nonfiksi

TERAPI TANPA OBAT ALA FILOSOFI TERAS

Kesadaran dan keresahan masyarakat atas kesehatan mental belakangan ini semakin nyaring dikumandangkan. Ketika dunia bergerak  cepat dengan perkembangan ilmu pengetahuan empirik dan teknologi, manusia dibuat kehilangan waktu untuk mengisi kekosongan yang ada dalam dirinya. Tidak dinyana, filsafat yang dikenal sebagai ilmu abstrak dan rumit serta tidak jarang dikerdilkan ternyata telah memprediksikan kondisi kehidupan manusia saat ini. Lewat bukunya, Henry Manampiring memperkenalkan filsafat, yaitu filsafat stoisisme, dengan pendekatan praktis dan mudah diterima. Apa saja ajaran filsafat stoisisme yang disampaikan? Bagaimana ajaran tersebut relevan dengan kehidupan saaat ini?

Buku Filosofi Teras merupakan langkah yang diupayakan oleh Henry Manampiring agar filsafat dapat menjalankan perannya dalam kehidupan manusia. Pengalaman hidup telah menuntunnya menuju ketenangan meskipun melalui berbagai rimba yang mengguncang jiwa. Kondisi kesehatan mental yang dialami Henry Manampiring membawa pada sebuah perjalanan agar bisa ‘sembuh’. Hasrat tersebut justru menuntunnya pada sebuah alternatif solusi yang membantu memperoleh ketenangan yang jauh lebih baik. Ajaran filsafat stoisisme disebutnya sebagai ‘terapi tanpa obat’ yang bisa dipraktikkan seumur hidup. Ia meyakini bahwa hal ini perlu disebarluaskan mengingat sudah terlalu banyak orang yang saat ini hidup dipenuhi dengan kekhawatiran dan terkurung dalam kecemasan.

…sesungguhnya tidak ada yang benar-benar istimewa dengan peristiwa hidup kita, baik dalam perspektif waktu (semua drama kita ini sudah pernah terjadi di masa lampau di seluruh dunia, dan akan terjadi lagi di masa depan), dan juga dalam perspektif seberapa pentingnya apa yang kita alami dibandingkan keseluruhan umat manusia dan hidup, maka jika kita rasional, kita tidak perlu lebay di semua situasi.

Henry Manampiring, Filosofi Teras (2019)

Filsafat stoisisme, yang kemudian dalam buku ini disebut filosofi teras, merupakan ajaran yang didirikan oleh Zeno kira-kira 300 tahun sebelum Masehi saat masa peperangan dan krisis di Yunani. Dalam buku tersebut, penulis menuturkan ajaran ini membantunya untuk menjalani hidup dengan lebih tentram dan tidak mudah terganggu dengan hal-hal negatif. Hal ini sendiri merupakan tujuan dari filsafat stoisisme yang memfokuskan diri kepada pengajaran filsafat tingkah laku hidup untuk mencapai ketentraman hidup atau ataraxia. Stoisisme tidak menggantungkan pada pencapaian kebahagiaan eksternal seperti yang dipopulerkan oleh banyak buku self-help masa kini. Nilai kebijaksanaan yang diajarkan pun bersifat universal sehingga bisa dipraktikan oleh semua orang tanpa memandang atribut-atribut sosial yang melekat pada dirinya. Hal inilah yang membuat filsafat stoisisme terlihat realistis untuk bisa dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak semua peristiwa yang terjadi dalam hidup ini berada dalam kendali kita. Kehidupan yang dipenuhi ketidakpastian pastilah berdampak pada munculnya beragam pikiran negatif, seperti cemas, takut, was-was, dan bahkan menjalar menjadi depresi klinis. Stoisisme mengajarkan kepada manusia agar tangguh menghadapi segala permasalahan dalam hidup. Salah satunya, yaitu dengan mengenali sesuatu yang bisa dikendalikan dan sesuatu yang berada di luar kendali kita. Sesuatu yang terjadi di luar diri kita mungkin sulit dikendalikan atau bahkan berada di luar kendali kita. Sebaliknya, kita bisa mengendalikan bentuk respon terhadap hal tersebut. Oleh sebab itu, sesuatu yang tidak bisa dikendalikan memang tidak perlu dipikirkan karena kita tidak punya kendali untuk mengubahnya. Terdiri dari 12 bab, Filosofi Teras menjabarkan bentuk pengendalian dalam diri dan nilai-nilai yang diajarkan oleh filsafat stoisisme agar mudah diterapkan dalam praktik kehidupan sehari-hari.

Dengan gaya menulis yang sederhana serta ilustrasi yang menarik, buku ini diharapkan dapat meruntuhkan anggapan bahwa filsafat hanyalah bualan kosong yang bersifat arogan. Sejatinya, filsafat adalah denyut nalar yang menyentuh kebutuhan terdalam manusia atas pencarian makna dan tujuan hidup. Dengan demikian, manusia diharapkan mampu hidup merdeka dengan segala tekanan hidup yang dihadapinya.

Filosofi Teras| Henry Manampiring| Jakarta: Penerbit Buku Kompas| 2019 (Cetakan Pertama)|320 halaman| ISBN: 978-602-412-518-9

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *