Katarsis,  Kontemplasi,  Puisi

Senandika Usang

Ada kata-kata yang indah namun tidak bisa terdengar.
Ada rasa yang meluap namun tidak bisa disesap.
Ada isyarat namun tidak lagi bermakna.

Aku ingat ketika kita masih duduk berdua di dalam bus itu. Kita saling mencuri tatap dan berbicara dalam senyuman. Lucu sekali. Sejak itu, aku tak pernah lepas memandangmu. Bukannya sengaja, tapi hanya tidak bisa menutupi kekaguman yang entah disebabkan oleh apa.

Aku ingat saat pertama kali mendapatkan pesanmu. Perasaan yang sulit kulukiskan kembali untuk saat ini. Saat aku benar-benar mengagumimu lebih dari apapun. Menyukaimu dengan sangat sehingga nalarku tenggelam dalam lamunan imajinasi tentangmu.

Mungkin pada awalnya, aku ingin mengagumi dalam imajinasi saja, namun perlahan aku menjadi serakah. Aku ingin memilikimu seutuhnya. Tutur katamu, ambisimu, sikapmu, bahkan gurauanmu sampai saat ini masih melekat dalam ingatanku. Jangan menganggapku aneh karena aku pun tak tahu mengapa begini. Dan aku juga tidak mengerti bagaimana membahasakan ini semua, haruskah kusebut cinta atau ilusi saja?

Aku pun tertawa. Untuk apa menanyakan hal yang tidak ada jawabannya, sementara kita bisa memilih. Lucunya, aku sudah memilih. Memilih untuk meninggalkan kamu, sang imaji, dan keluar dari imajinasi yang membelengguku selama ini. Tapi kamu? datang lagi dengan membuka pintu imaji yang kusimpan rapat. Kau koyak lagi dengan mencuri kunci di dalam kenanganku. Sesaat aku pun lupa bahwa ini semua hanya senandika. Ya, senandika usang yang tak perlu kau ungkap lagi.

Mari berolah kata dan bersenandika di kamar baca.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *