Cerpen,  Katarsis

Menanti Satu Hari Baik

Aku bukanlah seseorang yang pandai bercerita. Namun ada yang ingin aku ceritakan padamu. Sungguh sulit sebenarnya untuk mengatakannya dengan jujur. Pada saat aku berusaha jujur, semakin banyak tatapan sinis yang tertuju padaku. Cerita kelam, yang melebihi kelamnya malam, semakin tenggelam dalam kegelapan. Luka yang disebabkannya pun tak pernah sepenuhnya sembuh. Ia berusaha keluar, namun tak benar-benar hilang. Aku tak bermaksud menyalahkan mereka. Maksudku, yang terjadi dengan diriku tidaklah seberapa penting. Jadi untuk apa dipikirkan.

Seseorang yang sempat kukenal pernah berkata kepadaku. Katanya, hidup sangatlah memuakkan tapi tetap harus ditelan. Bukan apa-apa, lanjutnya, itu karena memang tidak ada pilihan. Aku belum memahami maksud ucapannya waktu itu. Namun akhir-akhir ini, aku baru memiliki kemampuan untuk memahaminya. Saat setelah ia meninggalkanku. Dan meninggalkan segala yang dimilikinya. Setidaknya, ia sempat juga meninggalkan peluh dan keluh keputusasaan yang sekarang bisa kuanggap sebagai hiburan.

Aku tahu hidup tidak memberikan kebahagiaan dengan cuma-cuma. Semua harus diperjuangkan. Sebenarnya, perjuangan yang sedang aku lakukan—jika ini memang layak disebut perjuangan—bukan untuk mencapai kebahagiaan. Aku hanya sedang memilih penderitaan yang sanggup untuk kutahan. Tetap bertahan seperti ini agar besok bisa mengulangi perjuangan yang sama lagi. Setidaknya, aku sudah tahu bagaimana cara mengahadapinya.

Pagi ini aku sibuk sekali di kantor. Sebenarnya tidak hanya pagi ini saja. Hampir seluruh hidupku telah kuserahkan untuk tenggelam dalam bejana kesibukan di kantor. Tumpukan surat konsumen memadati mejaku. Berbagai surel yang harus kubalas memenuhi kotak masuk. Belum lagi dering telepon yang terdengar menyakitkan di telinga. Saat semua telah kuselesaikan, aku pun bertanya-tanya sebenarnya apa yang baru saja kulakukan.

Atasanku? Sebenarnya, aku sangat muak menceritakannya. Tapi hal ini harus kuceritakan padamu.

Dalam ingatanku tentangnya, hanya ada bayangan sudut-sudut mulutnya yang selalu berbuih tatkala ia berbicara. Kekuasaan yang dimilikinya tidak pernah ia lewatkan tanpa kesewenang-wenangan. Yang paling aku benci adalah setiap kata yang keluar dari mulutnya. Rasanya seperti semburan api yang keluar dari mulut naga. Sulit untuk tidak terbakar saat menerimanya.

Bagiku, atasanku hanyalah Si Tua Bandot yang tidak tahu diri. Banyak kudengar desas-desus tentang dirinya yang seorang mata keranjang. Aku tidak terlalu peduli saat mendengarnya. Sampai pada akhirnya, hal itu benar-benar terjadi pada diriku. Ia pernah menggodaku agar aku mau berkencan dengannya. Berbagai kesempatan ia gunakan untuk bisa mendekatiku. Belum lagi lirikan mata penuh hasrat yang selalu kuterima tiap kali aku berjalan melewatinya. Demi Tuhan, rasanya ingin sekali aku merajah tubuhnya!

Tentu saja tidak aku tanggapi. Siapa juga yang mau berkencan dengan orang yang selalu mengeluarkan rebas-rebas ludah saat berbicara? Aku masih muda. Hal yang wajar bagiku untuk menimbang penampilan dalam urusan berkencan. Ia masih tidak menyerah. Kala itu, ia pun berusaha mengiming-imingiku dengan berbagai kenikmatan materi yang bisa ia penuhi. Sekali lagi aku menolak. Namun kali ini dengan sikap ketus dan ancaman akan melaporkannya pada bagian HRD. Sejak saat itu, ia tidak pernah lagi menggodaku. Dan sejak saat itu pula sikap manis yang selama ini ia tunjukkan padaku berubah total. Aku berusaha untuk tidak menghiraukannya. Tentu saja sangat sulit. Tanpa adanya hal itu saja sudah sulit bagiku untuk melanjutkan hidup.

Seminggu yang lalu, tepat di hari saat ia memiliki jadwal untuk melakukan perjalanan ke luar kota, aku tidak sengaja berpapasan dengannya di sebuah hotel di ibukota. Tampak ganjil memang. Kejadian yang mengejutkan itu tentu saja tidak pernah ia sangka. Sekelibat, aku melihat kepanikkan menyembul dari wajahnya. Pantas saja. Ia baru saja mengecup mesra seorang perempuan yang setahuku bukan istrinya—kalau memang ia hanya punya satu istri. Perempuan yang ini terlihat lebih muda dari diriku. Sifat manja nampak melalui caranya merapatkan tubuhnya ke tubuh atasanku. Tidak banyak yang ingin aku tahu dari kejadian tersebut. Bukan hal yang penting bagiku. Aku pun berlalu tanpa memberi banyak tanggapan atas adegan yang baru saja terlintas di depan mataku.

Sesungguhnya, tujuanku saat itu ialah untuk memenuhi panggilan telepon dari seseorang yang sempat kukenal. Melalui telepon, ia berkata padaku bahwa kalah dan menyerah bukanlah hal yang buruk. Tapi akan lebih baik untuk bertahan dan menanti satu hari baik untuk merasakan kebahagiaan. Satu hari itu telah datang padanya. Katanya, ia ingin menjadikan hari tersebut sebagai hari yang paling dikenang seumur hidupnya. Sampai saat ini, aku masih tidak benar-benar percaya satu hari itu telah datang kepadanya. Bagiku, masih ada hari lain yang akan lebih baik untuk ia kenang. Aku masih sangsi, apakah ia benar-benar telah mendapatkan satu hari baik yang telah sekian lama ia nantikan atau ia berbohong karena telah kalah dan harus menyerah. Kala itu, rasa ingin tahuku terkubur terlampau dalam oleh kemasygulan yang kurasakan.

Hidup nampaknya masih tak sudi memberiku kebahagian. Kali ini ia mengantarkan sebuah penderitaan baru—tanpa adanya pilihan mau atau tidak untuk kuterima. Di hadapanku, seorang perempuan yang kukenal sebagai istri dari atasanku berdiri dengan wajah penuh kemurkaan. Dilemparkan tangannya ke wajahku dengan berbagai cacian dan makian yang ia lontarkan.

“Dasar kau perempuan jalang!,” teriaknya memenuhi seisi ruangan kantor seraya diriku yang terperanjat dibuatnya. Rasa panas pun segera menjalar ke wajahku. Dengan keributan yang terjadi, jelas saja ini menjadi tontonan menarik.

Sejenak, hatiku menciut saat diperlakukan seperti itu. Aku kebingunan dengan apa yang sedang terjadi. Aku pun menerka-nerka kejahatan macam apa yang pernah kuperbuat padanya. Ketakutan sempat menghampiriku tidak berapa lama.

“Berani sekali kau goda suamiku, atasanmu sendiri!,” pekiknya.

Sekarang aku paham apa yang sebenarnya sedang menimpa diriku. Aku melihat seorang pecundang dengan seringai yang menghiasi wajahnya di balik perempuan itu. Bandot tua sialan, gumamku dalam hati. Tuduhan, hinaan, dan hantaman berkali-kali dilayangkan kepadaku. Wajah licik laki-laki itu tidak akan pernah aku lupakan. Kepuasan terlihat jelas di wajahnya. Ia berhasil membalas penolakanku dengan cara yang sangat tidak kuduga.

Aku hanya ingin bercerita kepadamu. Tapi bila aku diberi kesempatan, bolehkah aku bertanya? Apakah aku sudah kalah dan harus menyerah atau tetap bertahan untuk menanti satu hari baik untuk merasakan kebahagiaan? Sejenak kebingungan menerabas masuk ke dalam benakku. Jujur saja, sampai saat ini aku merasa malu karena tidak mampu memberikan jawaban.

Ah, sudahlah. Tentunya ini bukanlah satu hari baik yang layak untuk dikenang bagiku. Lagi pula, aku belum memiliki alasan untuk kalah dan menyerah sebelum aku melihat Si Bandot Tua itu menderita.

Sumber Ilustrasi: http://www.oodegr.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *