Fiksi,  Jelajah Buku

KESEPIAN YANG NYARING DIBUNYIKAN

Kebebasan memang amat lantang digaungkan. Sayangnya, keegoisan turut serta membuntutinya. Arogansi berkuasa atas empati. Serasa dunia berada dalam genggaman pribadi. Setiap orang berlomba-lomba menumpahkan segala hal yang ada di dalam kepalanya. Seolah-olah pendapatnya layak didengar dan orang lain wajib mengetahuinya. Begitulah bagaimana kehidupan di dunia maya. Jika tidak kuat berada di dalamnya, maka bersiaplah untuk tergilas. Tidak main-main, kedamaian dalam diri harus siap terkoyak. Masalah kesehatan mental pun menjadi ancaman.

Kesehatan mental menjadi tema utama yang diangkat dalam novel karya Syahid Muhammad dengan judul Egosentris. Menceritakan kisah tiga orang yang bersahabat bernama Fatih, Saka, dan Fana. Ketiganya merupakan mahasiswa jurusan Psikologi di salah satu universitas di Bandung. Meskipun demikian, mereka memiliki karakter yang berbeda. Fatih digambarkan sebagai seseorang yang lekat dengan kesusahan. Kemiskinan selalu hadir dalam hidupnya sehari-hari. Ia dikenal sebagai sosok yang terlalu serius dalam menanggapi sesuatu. Terlebih lagi, ia sangat vokal dalam menanggapi berbagai konstruksi sosial di sekitarnya. Ketidaksesuaian Fatih dalam memandang berbagai fenomena dalam hidup membuatnya dipandang sebagai sosok yang menyebalkan. Meski lantang saat menyampaikan kritik, Fatih sesungguhnya memendam berbagai rahasia dengan sangat dalam.

Lain halnya dengan Saka. Ia berperan untuk merapikan kekacauan yang dilakukan oleh Fatih. Saka dikenal sebagai seseorang yang populer dan pandai bergaul. Kebaikan yang ada pada dirinya sering dinilai sebagai suatu harapan oleh kaum hawa. Namun kebaikan yang ditunjukkan Saka kerap kali redup saat ia pulang ke rumah. Sebagai anak laki-laki yang juga merupakan anak pertama dalam keluarganya, wajar saja apabila Saka merasa memiliki tanggung jawab lebih. Gejolak amarah kerap datang menghampiri, mana kala ia berusaha untuk menggantikan peran ayah dalam keluarganya.

Fana merupakan anak perempuan tunggal dari seorang keluarga yang cukup perfeksionis. Ayah dan ibunya merupakan seorang dokter dan psikolog. Tidak heran memang jika mereka berusaha untuk selalu campur tangan dalam mengurusi kehidupan putri semata wayangnya. Hidupnya begitu terarah dan terjamin. Mulai dari pendidikan, teman sepergaulan, hingga makanan, Fana menurut tanpa menuntut atas keputusan kedua orang tuanya. Ia cukup belajar dan berusaha menyenangkan mereka. Paling tidak, ia bisa terhindar dari berbagai masalah yang mungkin terjadi padanya. Fana sangat memahami Fatih. Meski tidak memiliki banyak kesamaan, ia menjadi seseorang yang dipercaya Fatih saat menumpahkan segala kecemasan tentang hidup. Kerelaan Fana untuk mendengar bermacam keluh kesah dari mulut Fatih menjadi kelemahan yang menyenangkan baginya.

Novel ini memuat kisah yang cukup padat. Problematika yang diangkat amat lekat dengan kehidupan sehari-hari. Kehidupan menuju kedewasaan tidak jarang menimbulkan pergolakan. Kesulitan untuk bisa menerima keadaan diri, tekanan untuk berdamai dengan kenyataan, perasaan jengah terhadap lingkungan sosial, serta kesepian yang kerap kali datang mampu menumbuhkan perasaan iba bagi para pembacanya. Tidak lupa isu kesehatan mental yang seharusnya juga membangkitkan kepedulian kita. Novel ini juga mengajarkan kesetiaan atas nilai persahabatan, kerelaan untuk melepaskan, serta kemampuan untuk memaafkan. Secara tersirat, pembaca diajak untuk bisa melihat individu melalui berbagai sudut pandang. Melepaskan stigma yang kadung melekat di kepala. Amat menguras emosi sekaligus menghidupkan empati.

Egosentris|Syahid Muhammad|Yogyakarta: Gradien Mediatama| Januari Tahun 2019 (Cetakan Kelima)|372 halaman |ISBN: 978-602-208-165-4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *