Fiksi,  Jelajah Buku

KUBAH: PERJALANAN UNTUK KEMBALI PULANG

Gejolak yang terjadi di tahun 1965 memang menyimpan beraneka kisah. Sebuah karya dari Ahmad Tohari menjadikan momen tersebut sebagai latar dari novel yang berjudul Kubah. Kisah ini berawal dari kebebasan Karman yang merupakan seorang mantan Tapol. Sudah 12 tahun lamanya ia mendekam di Pulau Buru. Sebelumnya, ia didakwa terlibat sebagai anggota dari sebuah partai komunis yang dibentuk oleh seorang terpelajar bernama Margo. Ia mengalami peristiwa yang membuatnya ingin kembali pulang.

Kebebasan Karman menjadi sebuah perjalanan panjang. Pulang. Begitulah ia memaknai perjalanan tersebut. Pulang menuju kampung halamannya dan pulang untuk kembali kepada Tuhan yang dulu dikenalnya. Ia melakukan perjalanan menuju desa Pegaten. Tempat ia dibesarkan, keluarganya berada, dan segala kenangan yang tersisa. Kebimbangan mulai mengisi hatinya. Sebuah letupan ketakutan, kalau-kalau kedatangannya tidak lagi diterima oleh warga desa. Kesalahan yang pernah dilakukannya di masa lalu pastilah masih meninggalkan jejak pada desa Pegaten.

Nasib yang dialami Karman bermula saat ia masih menjadi bagian dari desa Pegaten. Seorang warga desa biasa yang memiliki ijazah SMP. Rajin mendatangi masjid sebagai upaya memantapkan keimanannya. Hingga Karman remaja mengalami gejolak cinta dalam dirinya. Cintanya tertuju pada gadis bernama Rifah yang juga merupakan anak dari Haji Bakir. Tatkala menyampaikan perasaan tersebut kepada Haji Bakir, Karman tak mendapatkan balasan yang diharapkan. Kekecewaan yang disertai dengan kepolosan mengantarkan Karman pada Margo dan Triman. Mereka merupakan kader militan yang memiliki kecakapan dalam menghimpun simpatisan partai. Inilah awal terjadinya berbagai pasang surut dalam kehidupan Karman. Puncaknya pada tahun 1965, ia terseret atas keterlibatan dengan sebuah partai komunis yang kemudian mengantarkannya sebagai seorang Tapol di Pulau Buru.

Berbagai peristiwa yang dialami Karman menimbulkan gejolak dalam batinnya. Semasa kecil Karman beriman penuh terhadap ajaran agama. Namun setelah menjadi orang partai, keimanan semacam itu dibuang jauh. Peristiwa penangkapan tersebut membuat pikirannya terbang kembali ke masa lalu. Ketika ia bersama teman-teman sebaya sembahyang di masjid. Ia rindu terhadap kedamaian dan keteguhan yang dulu pernah dirasakannya. Masa-masa indah dan penuh ketenangan telah lama ia tinggalkan. Kekhawatiran pun muncul tatkala ia tidak memiliki kesempatan untuk kembali.

Tohari mengisahkan pengalaman sejarah bangsa melalui tokoh Karman. Kepolosan yang dimiliki Karman membuatnya tidak mampu melihat propaganda dalam pergerakan partai komunis. Situasi masyarakat yang masih terkurung dalam kemiskinan dan ketidakmampuan untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi menjadi faktor jatuhnya korban layaknya Karman. Alhasil, realitas yang terjadi dalam masyarakat dibumbui dengan berbagai doktrin kepentingan partai dapat diterima. Penggambaran kearifan warga desa serta situasi politik saat itu merupakan pelajaran yang sangat berharga untuk melihat konflik tersebut dengan sudut pandang berbeda. Rasa simpati pun terus hadir saat membaca novel ini. Kesederhanaan dalam mengisahkan peristiwa yang amat rumit ini menjadi nilai lebih. Meskipun mengangkat isu sensitif, novel ini tidak sulit untuk dinikmati. Konflik yang terjadi tidak diceritakan secara berlebihan. Terasa mengalir namun tidak hambar.

Kubah  |Ahmad Tohari|Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama| Maret Tahun 2015 (Cetakan Kelima)|216 halaman |ISBN: 978-979-22-8774-5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *