Katarsis,  Kontemplasi

GENERASI MILENIAL DAN SEGALA PROBLEMATIKA YANG MENYELIMUTINYA

Seberapa sering kamu mendengar atau menemukan terma generasi milenial? Pastinya sudah sangat sering. Terma generasi milenial memang sedang banyak digaungkan belakangan ini. Dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe, merupakan tokoh yang memperkenalkan terma tersebut. Secara harfiah, tidak ada demografi khusus dalam menentukan kelompok ini. Namun demikian, Pew Research Center menentukan tahun 1996 sebagai akhir tahun kelahiran generasi milenial. Sehingga penggolongannya, yakni mereka yang lahir di tahun 1981 sampai 1996. Kamu mungkin juga merupakan bagian dari generasi ini.

Di Indonesia, 81 juta dari sekitar 200 juta penduduknya merupakan generasi milenial. Dengan banyaknya jumlah tersebut, generasi ini diprediksi sebagai yang akan mengambil alih kendali bangsa di masa depan. Tidak heran memang jika kelompok ini tengah menjadi sorotan dari berbagai pihak. Tumbuh dalam asuhan generasi yang dikenal penyendiri tapi cerdas dan kreatif, milenial diproyeksikan jadi generasi paling penuh inovasi. Sehingga banyak ekspektasi dan tekanan dilemparkan kepada milenial oleh generasi sebelumnya.

Sayangnya, ekspektasi dan tekanan ini dibarengi dengan berbagai stigma yang merugikan. Generasi pemalas, ogah bekerja keras, suka sesuatu yang instan, narsis, keranjingan media sosial, berpendidikan tinggi tapi minim prestasi, konsumtif, tidak loyal, dan berbagai tuduhan lainnya. Tumbuh bersama dengan perkembangan teknologi yang padat serta kekuatan arus informasi yang deras, generasi ini memiliki permasalahan sama secara global. Salah satu dari sekian banyak stigma tersebut boleh jadi merupakan masalah yang sering kamu jumpai sehari-hari.

Milenial sering dihujani dengan berbagai tuntutan. Memiliki pendidikan tinggi, pekerjaan mapan, karir gemilang, keluarga harmonis, investasi dan jaminan di masa depan, serta pemenuhan berbagai peran dalam kelompok sosial. Hidup dalam masyarakat dengan basis materialis, milenial dengan mudah akan diidentifikasi melalui apa yang telah dimiliki dan dicapai. Tanpa disadari, nilai milenial sebagai manusia pun dikebiri oleh masyarakat tersebut.

Tuntutan yang diterima oleh milenial secara subtil berpengaruh ke dalam wilayah rasionalitas. Milenial akan berusaha dan bersedia untuk menyesuaikan seluruh hidupnya dengan tuntutan tersebut. Realitas ini bukan lagi ancaman. Namun sebagai sistem yang harus dipenuhi supaya tidak terlindas. Milenial pun akan mengeksploitasi diri sendiri melalui kerja keras hingga mereka merasa terasing. Bekerja yang memiliki hakikat sebagai sarana agar manusia mampu menemukan jati diri dan mengembangkan kemampuannya tereduksi menjadi sebatas usaha pemenuhan nilai material dalam masyarakat. Mereka berusaha untuk survive agar mendapatkan tempat dalam struktur sosial. Semangat berkompetisi lambat laun tapi pasti juga ikut tumbuh. Pada akhirnya, milenial akan merasa hidup bukanlah hal mudah untuk dijalani.

Sebagai bagian dari generasi milenial, kamu pasti juga merasakan beratnya berhadapan dengan tekanan tersebut. Usaha untuk survive dalam struktur sosial sering kali mematahkan idealisme dan ambisi pribadi. Keinginan untuk mendapatkan nilai dan makna dari apa yang kamu kerjakan sering kali terpaksa dikesampingkan. Ketidakpastian atas kehidupan di masa depan juga menambah kekhawatiran. Ditambah, kesuksesan teman seumuran banyak berseliweran di halaman media sosial. Milenial pun dilanda kegalauan.

Sangat sulit memang untuk tidak merasa demikian. Sebenarnya, apa yang milenial butuhkan adalah kesempatan untuk bernegosiasi atas segala tuntutan yang disematkan padanya. Mereka menginginkan rasa hormat dan apresiasi dengan pilihan hidupnya. Nilai milenial sebagai manusia haruslah lebih dikedepankan ketimbang pemenuhan nilai material. Bukan sekadar mesin yang begerak untuk memenuhi ekspektasi. Apa yang diinginkan milenial lebih dari bangun pagi hari, pergi bekerja, pulang ke rumah, istirahat, menghabiskan upah kerja, berlibur, dan sebagainya. Milenial ingin memilih jalannya sendiri untuk mencapai kesuksesan yang diidamkan.  Mereka hendak menemukan nilai dan mewujudkan hasrat menjadi realitas dengan harapan mencapai kebahagiaan sebagai manusia. Bukan begitu, sobat?

Sumber gambar: pinterest.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *