Memori: Menghangatkan Sekaligus Menghancurkan

“Berkatilah bagi orang yang melupakan. Yang belajar dari kesalahannya” – Nietzsche

Memori memang hal yang amat ganjil. Ia mampu menghangatkan sekaligus menghancurkan. Terkadang memori membuat manusia mampu bertahan. Dengan menyajikan kebahagiaan yang pernah menjadi bagian dari kehidupan. Tak jarang pula, ia menjerumuskan ke dasar jurang kenestapaan. Seandainya saja, kita punya kemampuan untuk hanya menyimpan memori yang kita inginkan. Kenyataannya tidak demikian. Seluruh memori itu saling bertarung dalam pikiran. Berusaha mendapatkan kekuasaan dalam kehidupan.

Dalam film Eternal Sunshine of Spotless Mind, memori menjadi inti penting dalam cerita. Film garapan Michel Gondry ini memadukan kisah romansa dengan fiksi ilmiah. Bercerita tentang hubungan asmara antara Joel dan Clementine. Sepasang kekasih yang perlahan-lahan merasakan kejenuhan atas keberadaan satu sama lain. Perasaan jenuh pun merambat pada makian dan berakhir dengan perpisahan. Tak disangka, Joel mendapati Clementine telah melupakannya dan bahkan tidak ingat sama sekali dengan hubungan yang pernah mereka jalani. Ia pun mendapati bahwa Clementine telah menghapus semua memori tentang Joel dalam ingatannya melalui sebuah prosedur ilmiah. Marah dengan hal itu, Joel pun membalasnya dengan melakukan hal yang sama. Namun seiring dengan sedang berlangsungnya prosedur tersebut, Joel mendapati dirinya masih mencintai Clementine. Lewat memori yang hendak dihapus satu per satu, Joel teringat perasaan bahagia yang pernah ia miliki bersama Clementine. Sadar dengan hal itu, ia berupaya menghentikan prosedur penghapusan memori yang sedang dijalaninya.

Film ini berhasil menyajikan cerita surealis namun tanpa menghapus batas-batas realis dengan sangat apik. Saat menontonnya, kita pun akan dibiarkan hanyut dalam gaya penceritaan yang penuh dengan metafora dan sarat akan makna. Ditambah dengan kemampuan akting para pemain yang patut diapresiasi, film ini mampu menarik penonton terjerembab dalam kegalauan berkepanjangan. Perlu digarisbahawi bahwa film ini sarat akan metafora yang penuh dengan makna filosofis, baik dalam setiap adegan, lokasi, maupun narasi. Maka untuk memahami film ini pun dinilai tidak cukup mudah.

“Clementine: This is it, Joel. It’s going to be gone soon.

Joel: I know.

Clementine: What do we do?

Joel: Enjoy it. “

Menonton film ini menyadarkan kita bahwa tidak ada cinta yang sempurna, karena manusialah yang menciptakannya. Cinta tidak melulu terpaut dengan kebahagiaan. Ia pun terikat dengan kesengasaraan, kebencian, dan kemalangan. Tidak selamanya cinta akan saling menguatkan. Ada momen di mana ia akan membuat manusia merasa semakin lemah. Seperti itulah cinta, meskipun menyakitkan namun tetap ada bagian yang menjadikan diri kita sebagai manusia. Kesadaran tersebut yang bisa saya dapatkan saat menonton film bernuansa melodrama ini. Sentimental, impresif, dan estetis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *