Perempuan yang Melawan Nasib

Terlahir sebagai perempuan memang sulit. Lebih sulit lagi menjadi seorang perempuan dalam jerat kemiskinan dan kebodohan. Imbasnya, banyak tindak ketidakadilan serta kesewenang-wenangan yang diterima oleh perempuan. Novel Entrok menjadi gambaran bagaimana kegelisahan yang dialami oleh dua orang perempuan dalam usaha untuk melepaskan diri dari kekejaman nasib. Konflik, politik kekuasaan, diskriminasi, kepercayaan, dan gender menjadi tema utama yang diangkat dalam novel ini. Melalui karya ini, kita diingatkan kembali bahwa lagi-lagi perempuan menjadi “tumbal” yang dikorbankan demi keuntungan sepihak.

Tokoh pertama ialah Sumarni atau Marni. Marni merupakan seorang perempuan Jawa yang terkungkung dalam keterbatasan. Meski demikian, ia memiliki kegigihan untuk membebaskan dirinya dari tatanan sosial yang diskriminatif. Marni melawan batasan sosial dan budaya yang terpatri di masyarakat tempat tinggalnya. Ia membuktikan perempuan tidaklah lemah seperti apa yang dicitrakan selama ini. Pembuktian itu dilakukannya dengan kegigihannya untuk bekerja layaknya seorang laki-laki. Alhasil, Marni mampu memperbaiki kualitas hidupnya. Seorang yang dulunya anak gadis miskin menjadi perempuan tangguh kaya raya. Meski demikian, Marni masih memegang teguh ajaran leluhurnya melalui ritual kepercayaan ‘nyuwun’ yang ditujukan kepada Mbah Ibu Bumi Bapak Kuasa.

Tokoh kedua yaitu Rahayu yang merupakan anak Marni dan Teja. Rahayu adalah ambisi yang tidak dicapai oleh Marni. Ia pun menjadi harapan bagi Marni. Kemiskinan dan kebodohan yang pernah menghampiri hidup Marni diusir jauh-jauh dari Rahayu. Ia ingin Rahayu menjadi sarjana dan bekerja sebagai pegawai supaya bisa manaikan derajat dan martabat keluarga. Melalui pendidikan yang diterimanya, Rahayu menjadi sosok terpelajar yang berpikir kritis dan rasional. Ia menolak takhayul dan kepercayaan terhadap leluhur dengan memilih menjadi seorang pemeluk agama Islam yang taat. Hal inilah pemicu berbagai konflik yang terjadi antara Marni dan Rahayu. Perbedaan yang dialami oleh keduanya membuat mereka merasa asing dan sulit memahami satu sama lain. Meski kenyataannya mereka masih disatukan dalam ikatan darah. Marni menilai Rahayu sebagai sosok yang tidak berperasaan, sedangkan Rahayu menuduh Marni sebagai sosok penuh dosa.

Bukan hanya sekadar konflik antara dua orang perempuan dengan perbedaan generasi saja. Novel ini juga mempersoalkan gambaran kehidupan masyarakat pada masa Orde Baru. Sebuah hegemoni Negara yang secara terbuka mengintimidasi masyarakat lemah. Ketidakberdayaan masyarakat membuat tindakan itu menjadi hal lumrah yang harus diterima dengan pasrah. Kesewang-wenangan aparatur Negara dalam memperlakukan rakyat sipil demi kepentingan kelompok yang dibelanya. Lebih mengecutkan lagi bagaimana ketidakadilan gender termanifestasi dalam bentuk kekerasan dirasakan oleh para perempuan. Perampasan hak-hak mereka sebagai manusia menjadi persoalan yang tidak digubris oleh banyak orang. Konflik lain yang dikisahkan dalam novel ini adalah sikap masyarakat yang sinis dan menikmati kebodohannya. Mereka mencibir usaha Marni sebagai seorang rentenir atau ‘bakul duwit’ namun di sisi lain mereka ikut sebagai pelanggan jasa tersebut. Kumpulan nestapa yang banyak menyimpan lara.

Keberhasilan Okky Madasari dalam menyampaikan jerit kehidupan masyarakat desa Singget dibuktikan dalam novel ini. Latar sosial yang semrawut menjadi kritik sosial terhadap ketidakadilan kian luput dari perhatian kita. Amanat lain yang disampaikan dalam novel ini adalah etos kerja yang dikisahkan melalui Marni untuk memperbaiki kualitas hidupnya. Ini bisa menjadi kesadaran yang layak ditularkan kepada perempuan-perempuan lainnya. Semangat kerja yang melumpuhkan pandangan terhadap ketidakberdayaan yang sering disematkan kepada kaum perempuan. Novel ini menuntun pembaca menemukan rasa empati terhadap perempuan dengan stigma merugikan. Dan selayaknya, kisah dalam novel ini mampu menghidupkan kembali rasa kemanusiaan yang lama bersemayam dalam diri kita.

Entrok | Okky Madasari | PT Gramedia Pustaka Utama| April 2010| 282 halaman | ISBN 978-979-22-5589-8

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *