Ilustrasi gambar oleh Tita Nurdiah (IG: @titanurd)

Ephemera

 

Kau masih cantik. Itulah yang selalu kuingat. Kecantikan sederhana yang terus membuatku terpesona. Wajah oval dengan pipi kemerahan bila tersipu, bibir yang tampak ranum, dan rambut indah yang selalu kau biarkan menutupi sebagian wajah cantikmu. Sesekali kau selipkan rambut indah itu ke belakang daun telinga bulatmu. Saat itu aku bisa melihat tahi lalat kecil yang bertengger di pelipismu. Jika satu demi satu citra itu terkumpul dalam pikiranku, dengan sendirinya wajahmu akan terbayang. Hatiku pun akan bergetar pada saat itu terjadi.

Tapi bagiku, kecantikanmu yang sebenarnya terpusat pada matamu. Mata dalam dengan bola mata cokelat yang merupakan perwujudan keindahan semesta. Kedua matamu akan berbinar saat menatap lekat lawan bicaramu. Dari mata itu juga, tersirat lara yang kau kubur dalam-dalam. Tak sembarang orang kau biarkan meniliknya. Namun kau membuka jalan perlahan-lahan kepada diriku untuk menyingkapnya. Aku menyukainya saat matamu berpendar dalam tawa riang. Meski yang sering kudapati kekosongan saat kau termenung.

Sudah lebih dari 10 tahun berlalu. Tapi aku masih bisa mengingat jelas berbagai cerita yang kau gunakan untuk mengisi diriku. Cerita yang bisa mengurangi kepedihan pada dirimu. Kenangan itu pun merambat masuk ke dalam pikiranku. Pemandangan laut terhampar luas di depan mata kita. Semilir angin darat menyapa. Menghantarkan udara lembab semakin sulit diterima. Namun kita masih sibuk bercerita yang bukan hanya tentang kita.

“Coba mesin itu benar-benar ada. Aku pasti akan jadi pasien pertamanya,” ucapmu mengisi keheningan sesaat yang hadir setelah obrolan tentang film favoritmu.

Aku menatap lekat wajahmu. Berusaha membaca apa yang sebenarnya sedang kau pikirkan saat itu. “Kamu tidak bahagia?,” pertanyaan yang terlontar begitu saja dari mulutku.

Kau pun terdiam sesaat. Menatap lurus mengamati buih-buih yang timbul tenggelam dalam ombak. Pikirku, kau sedang berusaha menemukan jawaban yang tepat untuk menutupi lukamu saat itu.

“Aku belum menemukan konsep bahagia yang pas untukku. Bahagia masih terlalu samar bagiku,” ucapmu.  “Hanya saja, aku ingin menghapus ingatan yang terlalu menyakitkan.”

“Bahkan saat kau sudah melangkah sejauh ini?”

Kau pun bergeming. Berusaha menelaah maksud pertanyaanku.

“Aku merasa berantakan,” katamu. Tidak lebih dari itu, kau tidak menjelaskan apa-apa lagi. Sambil memalingkan wajah ke arahku, dengan mata itu kau berusaha memohon agar aku memahami maksudmu. Namun aku tidak menemukan kejelasan dari apa yang kau ucapkan saat itu. “Bagaimana dengan dirimu? Apa kau bahagia?,” tanyamu.

Kini aku yang berusaha mengalihkan padanganku. Menghindari tatapan matamu yang pernuh rasa ingin tahu.  “Iya, aku bahagia,” jawabku singkat mengisi kekosongan kala itu. Namun kau tetap tidak melepaskan pandanganmu dariku, merasa tidak puas. “Setidaknya untuk saat ini, aku bahagia.” Menyempurnakan jawaban sebelumnya seraya melemparkan senyum padamu. Seutas senyum pun terpampang elok di wajahmu. Paling tidak sejenak mampu mengalihkan kengerian yang kita khawatirkan akan merengkut kedamaian batin kita nantinya.

Kita bertemu pada saat yang salah. Kita sadari itu. Aku telah memiliki kekasih yang amat kucintai. Ia pun sangat mencintaiku. Mungkin lebih tepatnya sangat membutuhkanku. Baginya, diriku adalah semesta tempatnya berpijak. Bagiku, ia telah menjadi bagian dari tujuan hidupku. Berbagai rencana di masa depan telah dirangkainya untuk diriku dan dirinya. Ia sangat bahagia saat membeberkan rencana-rencana itu padaku. Aku pun demikian. Namun kadang masih kutemukan kekosongan dalam diriku yang tidak dapat kuisi dari dirinya. Dan aku menemukannya pada dirimu. Kuharap ini bukan rasa iba. Namun ketulusan yang kuberikan agar kau mengenal rasa bahagia.

Aku pun memahami dirimu. Bagimu, dibutuhkan pengorbanan besar untuk melahirkan kembali rasa cinta dalam dirimu. Pengorbanan yang tidak mungkin mudah bagimu. Perngorbanan yang menjadi alasan untuk menyerah bagiku. Bekas luka yang tertinggal atas kepergian orang-orang yang kau cintai masih sangat sulit untuk disembuhkan. Barang kali butuh waktu lama menyembuhkannya. Atau mungkin luka itu akan kau bawa sampai mati.

Waktu seakan-akan telah bersekongkol dengan kenyataan. Mereka tidak membiarkan dirimu memiliki kesempatan untuk menyembuhkannya. Kedua orang tua yang ditemukan bunuh diri dalam sel tahanan saat mereka ditangkap sebagai jemaat sekte aliran sesat, kakak perempuan yang masih dalam pusat rehabilitasi akibat pelecehan seksual yang diterima dari pemuka aliran sesat itu, dan kekasih yang tewas akibat kecelakaan motor yang sedang dikendarainya saat akan bertemu denganmu. Beruntung kau memiliki kerabat yang bersedia menolongmu agar tidak masuk ke lembah penderitaan yang lebih dalam. Walaupun kasih saying yang kau dapatkan dari mereka tidak mampu menyembuhkan luka yang sudah terlanjur menetap. Luka yang membuatmu takut untuk memberikan cintamu kepada orang lain.

Kini kau telah menemukan seseorang yang bersedia memberikan sebagian dirinya sebagai tempat membuang luka itu. Aku pun telah menjalani rakaian kehidupan sesuai dengan yang telah direncakan oleh kekasihku dulu. Aku senang kau tidak memerlukan mesin untuk menghapus ingatan yang menyakitkan dan membenahi bagian darimu yang berantakan. Kau telah menemukan bahagia yang dulunya samar. Aku pun telah bahagia dengan segala yang telah direncakan.

“Beruntung sekali bagi orang-orang yang bisa melupakan kenangan buruk. Namun akan lebih beruntung jika mereka dapat berdamai dan belajar darinya,” ucapku kala berpisah denganmu malam itu.

Sebenarnya, aku masih tidak mengerti. Mengapa pemandangan itu kini muncul jelas dalam ingatanku? Padahal ketika aku berada di sana, pemandangan itu sama sekali tidak meninggalkan kesan dalam benakku. Barangkali, kedua mata indahmu yang telah menarikku ke dalam ingatan itu. Tapi yang kuyakin, dirimulah yang berhasil menjelma menjadi kenangan dan menetap mengisi ruang kosong dalam ingatanku. Kuharap demikian pula denganmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *