Manusia yang Berencana Tuhan yang Kerepotan

“Tuhan, tolong lancarkan usahaku untuk mendapat proyek besar itu, supaya utang-utangku bisa lunas, keluargaku bisa lebih berkecukupan, dan aku bisa membantu orang yang membutuhkan. Aamiin ….”

Terdengar sebuah suara di lorong akal yang sempit dan gelap.
“Apakah kamu berpikir Aku akan mengabulkan?”
“Pasti, Tuhan, karena Engkau Mahabaik …”
“Apakah karena Aku Mahabaik maka Aku akan mengabulkan?”
“Kalau tidak, Engkau bukan Mahabaik. Kalau Mahabaik, Engkau pasti akan mengabulkan …”

“Sempit sekali pandanganmu. Ketika Aku mengabulkan doamu maka kau akan mendapat proyek itu, dan hidupmu meningkat drastis. Kau akan lupa dengan semua janjimu, dan kau akan mencari proyek yang lebih besar lagi. Karena sudah dikuasi harta, engkau menjadi gelap mata dan menyuap pemberi proyek, kemudain ditangkap KPK dan kau dipenjara 5 tahun. Keluargamu hancur berantakan.

“Apakah menurutmu, Aku masih Mahabaik?”
Hening begitu lama ….
“Beri aku petunjuk untuk berdoa kepada-Mu, Tuhan ….”
“Siapakah yang tahu yang terbaik untukmu? Kamu atau Aku?”
“Engkau, Ya Tuhan ….”
“Jika kamu tahu bahwa yang lebih tahu mana yang terbaik untukmu adalah Aku, kenapa kau paksa Aku untuk mengabulkan rencanamu?”

Hening kembali. Kali ini lebih lama. Suara itu terdengar lagi.
“Berdoalah kepada-ku, bahwa kau menyerahkan seluruh rencana, masalah, dan solusinya kepada-Ku untuk hidupmu.
Akulah pemilik semua yang terbaik. Akulah penentu hasil. Akulah yang akan memberimu petunjuk jalan yang terbaik untukmu. Aku yang akan membuka hijab di akalmu. Aku pulalah yang akan mengirimkan nikmat melalui perantara kepadamu.

Apakah itu begitu sulit untukmu?”
“Tuhan, kenapa hal sesederhana itu tidak terpikirkan olehku?”
“Karena kau tidak yakin kepada-Ku. Kau menghamba pada rencana terbaikmu, tapi minta pertolongan-Ku. Kau menuhankan dirimu dan Aku. Apakah kau tahu, apa yang menyebabkan Iblis harus enyah dari hadapan-Ku?”
“Apa, ya, Tuhan?”
“Sifatnya yang sombong. Dan sifat itu ada di sebagian besar manusia sepertimu.”
Suara itu lenyap selamanya diganti kesadaran diri yang dating tiba-tiba.
Saatnya untuk secangkir kopi panas hitam kental dan manis, dan menyerahkan semua hal. Semua hal. Hanya kepada Penentu Semua Rencana.
Itu kejadian beberapa tahun lalu.


Denny Siregar dalam Ngopi Bareng Denny Siregar: Tuhan dalam Secangkir Kopi
Penerbit Noura (PT Mizan Publika), September, 2017 (Cetakan pertama Mei 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *