Pakau

“Apa? Jadi kamu mau meninggalkan aku begitu saja setelah apa yang sudah kita lalui selama ini?” Rinda berteriak dengan keras saat aku mencoba menjelaskan niatku untuk kembali kepada Hana, Istriku. Hubunganku dengan Rinda memang sudah terjalin selama dua tahun ini, tapi selama itu berlangsung batinku terus bergejolak dan meminta ampun kepada Tuhan untuk menghentikanku dari hubungan haram ini.

“Aku sayang kamu, Adnan. Kamu matahariku. Jangan tinggalkan aku. Mana janji kamu waktu itu? Mana? Kamu sendiri yang bilang akan terus bersamaku dan meninggalkan Hana karena dia tidak bisa memuaskan hasratmu.” Rinda terus membujuk. Di rumah yang kubeli atas nama Rinda kini bagaikan penjara. Bulan sabit yang cahayanya terpantul di pelataran, dan angin yang berhembus semakin kencang seiring malam yang terus bergulir membuat suasana malam semakin syahdu. Rinda yang sebelumnya membujuk dengan mengungkit janji-janjiku padanya, kini memelukku dengan erat dan menangis.

“Adnan. Jangan tingalkan aku. Aku tidak akan minta apapun asalkan kamu tidak meninggalkan aku. Kita sudah punya mimpi kan?” Bujuknya isak yang membuatku nyaris luluh. Di benakku kini terkenang saat pertama berjumpa dengan Rinda.

Aku yang jenuh dengan apa yang tidak dimiliki oleh Hana membuatku terlena dengan rayuan Rinda yang saat itu adalah kenalanku saat bertemu di kereta. Dari bertanya di mana pemberhentian, pekerjaan, status dan dari keakraban yang terjalin kamipun berani bertukar nomor ponsel.

Sejak pertukaran nomor ponsel yang kami lakukan, kami mulai intens saling berhubungan. Akupun merahasiakan hal ini dari Hana istriku. Aku mencoba menyembunyikan identitas Rinda bagaimanapun caranya, Rinda hanya pelampiasanku, kelak aku akan meninggalkannya begitu fikirku.

Setelah dua tahun kami jalani, aku mulai sadar perubahan terhadap Hana. Dia yang dulu enggan melayaniku sebagai suami dan memikirkan dirinya sendiri, kini terus memperhatikanku bahkan sampai hal yang kecil sekalipun. Dia yang dulu sangat melarangku untuk menghisap tembakau, tapi kini bahkan dia yang menyediakanku rokok ketika aku sedang melamun di teras rumah kami.

Perhatian-perhatian seperti itu yang terus membekas hingga kini dan membuatku ingin meninggalkan Rinda yang telah menemaniku selama dua tahun belakangan. Di dalam dekapannya aku berusaha berbicara, tapi tak sepatah katapun yang dapat keluar dari lisan. Bahkan untuk menjelaskan apa yang sedang kurasakan kepadanya aku tak sanggup.

“Rin. Aku mengerti perasaanmu. Aku juga merasakan hal yang sama. Tapi kali ini berbeda.” Kucoba memberanikan diri dan menjelaskan keinginanku kepadanya sambil melepaskan rangkulan. “Kamu cantik, kamu pandai, kamu mempesona, pasti banyak laki-laki yang ingin memilikimu. Aku ingin menyudahi ini karena aku sadar. Hana yang selama ini terus mendukungku, menyayangiku, mencintaiku, dan menerima kekuranganku. Aku ingin menghentikan semua ini. Semua yang telah kubeli atas namamu tidak akan kuambil.” Jelasku dengan tegas.

PLAK! Tangan Rinda mendarat pipiku dengan keras.

“Bajingan! Kamu pikir aku wanita murahan yang bisa kamu beli dan kamu buang seenaknya?” maki Rinda dengan penuh amarah. Tangannya memukuli dadaku dengan keras sambil memaki dan merancu. Aku yang merasa bersalah tidak membalas dengan perkataan apapun dan tidak bergerak sedikitpun.

Rinda menangis sejadi-jadinya hingga kakinya lunglai dan terduduk di lantai. Aku yang tidak mau termakan oleh tangisannya berbalik badan dan meninggalkannya dalam tangis. Aku tau hatinya kini berdarah, namun jika aku terus terbuai, seumur hidup mungkin aku tidak akan pernah mampu memanjat dari jurang hina ini.

“Bajingan kamu, Adnan! Bajingaaan!” Teriakan Rinda terdengar sampai ke pelataran. “Kuharap hidupmu celaka! Mati saja kamu sekalian, Andan!” Sumpah serapah terdengar dari kejauhan. Tanpa sadar kuteteskan air mata saat keluar dari pintu rumah itu. Sambil menangis kupacu mobil secepat mungkin. Dengan harapan akan ku temui Hana untuk mengakui kesalahanku dan meminta maaf padanya.

Sesampainya di rumah kuhampiri Hana, kupandang wajahnya, kupeluk erat tubuhnya, dan kukecup keningnya.

“Hana maafkan aku.” Hanya itu kalimat pertama yang dapat kukatakan padanya. Dia hanya diam. Tidak menjawab ataupun membalas pelukanku dengan hangat seperti biasanya. Kulepas pelukanku dan menatap wajahnya. Matanya berbinar, air mata mengalir dari sudut mata indahhnya. Kuhapus air mata dari sudut pipi chubynya.

“Ada apa sayang? Kenapa menangis?” tanpa sadar kalimat itu keluar begitu saja dari mulutku.

“Aku sudah tahu semua tentang Rinda sejak setahun yang lalu” jawabnya yang membuat mataku tak berkedip.

“Jadi se selama ini kamu?” Tanyaku terbata.

“Ya. Aku tau semua tentang kamu dan Rinda. Aku sadar dengan apapun kekurangan yang kupunya. Semua karena Aku yang sebagai istrimu tidak bisa memberikan pelayanan terbaik. Melarangmu ini-itu dan tidak melayanimu sepenuh hati.” Jawabnya sambil memegang pipiku mesra. Jelas kulihat pipinya basah karena tangis.

“Jika Rinda bisa memberikan yang terbaik untukmu, aku rela ditinggalkan. Pergilah dengannya, aku…” Katanya sambil isak dan merekahkan senyuman. “Menerima keputusanmu.”

Dunia seolah runtuh di hadapanku, pandanganku redup, lututku lemas, hatiku sakit bahkan lebih sakit dari saat aku meninggalkan Rinda.

“Aku sudah meninggalkan Rinda. Aku mohon maafkan aku. Aku sangat mencintaimu, aku sangat menyayangimu. Jangan berkata begitu, ku tinggalkan dia untuk kembali padamu.” Jelasku padanya sambil kupeluk erat Hana dengan tubuh lemasku. “Beri aku kesempatan Hana. Aku tidak akan melakukan hal itu lagi. Aku aku, aku rela jika kamu memberikanku hukuman. Hukum aku sepuas hatimu, aku akan menerima apapun itu. Tapi kumohon jangan biarkan ini berakhir.”

“Tidak, aku tidak akan menghukummu.” jawab Hana sambil melepaskan pelukanku.

“Kumohon maafkan aku. Apapun akan kulakukan, Apapun akan kuberikan untuk maaf darimu. Aku sangat mencintai kamu.”

Hana terdiam, wajahnya tertunduk, kesedihan terpancar dari wajahnya. Untuk sesaat kemudian dia tersenyum dan menatap wajahku.

“Kalau kamu benar masih mencintaiku, beri aku waktu.” Pinta Hana sambil berbalik dan berlalu. Aku tidak tau apakah itu adalah waktu untuk memaafkanku, atau waktu untuk mempersiapkan diri meninggalkanku.

Hana, maafkan aku. Aku sungguh mencintaimu.

(Jakarta, 15 Agustus 2018)

 


Jee Muhammad

“If I say I’m smart, do you believe it?”

 

 

 


 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *