Memoar Morrie

Jiwa-jiwa kelak merasakan mati. Kapan dan bagaimana mati tiada yang tahu pasti. Kematian menjadi perkara yang menakutkan, mengerikan, bahkan menganehkan untuk dibahas atau sekadar diutarakan. Padahal sesungguhnya, melalui kematian, kita belajar bagaimana menjadi hidup. Pepatah mengatakan, “Kita tidak benar-benar hidup sampai kita merasakan mati.” Lantas, terlintaslah pertanyaan; apalah arti mati jika belum merasa benar-benar hidup?

Selasa Bersama Morrie karya Mitch Albom mengajak kita menapaki jembatan penghubung antara kehidupan dan kematian. Buku yang telah terjual lebih dari 50 edisi di seluruh dunia ini adalah memoar dari Morrie Schwartz, seorang profesor dari Universitas Brandeis. Mitch mengabadikan kehidupan sang profesor saat mengisi kuliah berharga tentang makna kehidupan di tengah penantiannya menuju kematian. Kuliah Morrie berlangsung di Selasa dan Mitch adalah satu-satunya mahasiswa yang mengikuti kelas itu. Morrie mengisi kelasnya dengan diskusi tentang dunia, budaya, keluarga, cinta, emosi, uang, usia hingga ke ranah yang lebih filosofis; mengasihani diri sendiri, penyesalan diri, dan mempersiapkan kematian. Sampai akhirnya, Morrie harus menyudahi perkuliahan itu dengan mengucapkan kata perpisahan.

“Ingat yang pernah kukatakan mengenai makna hidup? Abdikan dirimu untuk mencintai sesama, abdikan dirimu kepada masyarakat sekitar, dan abdikan dirimu untuk menciptakan sesuatu yang mempunyai tujuan dan makna bagimu.”

Saya sangat menyukai kesederhanaan buku ini dalam meletakkan pesan yang ingin disampaikan Morrie. Membacanya pun dapat membuka kesadaran kita bahwa kehidupan yang dijalani oleh setiap manusia sangat tidak ternilai harganya. Topik pembicaraan yang dipaparkan juga sarat makna filosofis. Selasa Bersama Morrie mampu menghanyutkan pembaca dalam perenungan mendalam tentang hakikat kehidupan.

Selasa Bersama Morrie | Mitch Albom | Gramedia Pustaka Utama| Oktober 2016 (pertama kali diterbitkan pada 1997) | 212 halaman | ISBN 978-602-0334-57-8


Salbiah

An eternal student, an absolute thinker, and an everlasting fangirl.

 

 


 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *