Sketsa Memorabilia


Es di gelas itu telah mencair, membaur dengan kopi yang kupesan lebih dari satu jam lalu. Aku masih saja menatap ke luar jendela, sementara gerimis perlahan membasahi tanah. Mendinginkan udara pada malam yang tak berbintang kala itu. Aromanya yang khas juga menemaniku hari ini.

Aku menatap ke arahnya. Ia tersenyum padaku, masih dengan senyum terlebar dan tertulus yang pernah kulihat. Aku hampir meneteskan air mata. “Ya, andai aku bisa mengulang waktu, menikmati masa-masa itu. Aku ingin menyayangimu lebih, ingin menunjukkan betapa aku mencintaimu.”

Ia berkedip, membuang matanya ke meja, ke buku yang kutaruh di hadapannya itu. Hari ini ia akan pergi. Entah akan ke mana perginya ia sekarang, aku tahu benar sifatnya. Tak ada yang bisa menghalanginya tekadnya, termasuk aku.

Pelayan datang kepadaku, menawarkan apakah aku hendak memesan lagi, sebab dalam waktu setengah jam kafe itu segera tutup. Aku hanya menggeleng dan tersenyum padanya. Sembari melihat jam, aku menyandar di sofa.

Aku masih ingat momen terakhir kita. Kenangan itu teramat kuat melekat. Kata-kata yang tak sempat terucap. Betapa besar penyesalanku saat itu, saat aku seharusnya mengatakan sungguh aku mencintaimu. Bahwa selamanya takkan ada yang bisa menggantikan tempatmu pada urutan terdalam di hatiku.

Kini, ia pun melangkah pergi. Menjauh. Samar. Hingga hilang. Tapi, ia seketika menoleh ke arahku. Walau hanya tatapan, kau masih mencintaiku.

 


Dieni A. Zamzamy

A sapiophile, a librocubicularist, and a perpetual dreamer.

 

 


 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *