Lari dalam Pikiran Haruki Murakami

Haruki Murakami khas dengan imajinasinya yang hidup, kuat, dan karib.  Tapi, jika ingin melihat Murakami sebagai individu, silakan membuka memoarnya yang berjudul, What I Talk About When I Talk About Running.

Saat pertama berlari, ada entitas yang dikenal sebagai saya. Saya lari, maka saya ada.

Dalam memoarnya  yang ditulis pada musim panas tahun 2005 dan musim gugur 2016, Murakami merefleksikan hasratnya untuk berolahraga lari jarak jauh, hubungannya dengan menulis, dan ikatan antara berlari dan hidup. Secara sederhana, Haruki berupaya untuk menyatukan beragam pemikirannya tentang berlari dan makna bagi dirinya sebagai manusia serta pengaruh dalam kariernya sebagai penulis.

Lari menjadi bagian penting bagi Murakami  sebagai  penulis. Ia  berlari kemudian menemukan ‘ruang hampa’ yang sarat makna kontemplatif. Baginya, lari tidak sekadar kebutuhan jasmani. Tapi merupakan momen untuk menjernihkan pikirannya. Pada saat berlari, ia hanya merasakan dirinya dan segala pikiran di kepalanya. Saat itu juga ia mendapatkan kesempatan untuk intropeksi diri. Tidak heran buku ini ditemukan berbagai pemikiran Haruki yang sarat dengan makna filosofis. Dari sini ada beberapa perspektif atau kutipan menarik yang bisa menginspirasi dan mempengaruhi kehidupannya.

Murakami juga berkisah mengenai dirinya sebagai penulis. Kita bisa belajar banyak tentangnya dalam menggeluti bidang menulis. Metode, etika kerja, dan proses yang ia lalui dicurahkan melalui buku ini. Ia juga menceritakan bagaimana awal mula dirinya terjun dan memutuskan untuk menjadi seorang penulis. Hingga akhirnya, ia menemukan lari sebagai salah satu hal esensial yang mempengaruhi dirinya sebagai seorang penulis. Kita pun dapat melihat bagaimana usaha, semangat, dan konsistensi yang dimiliki Haruki dalam menggeluti kedua bidang ini.

Buku ini sangat ringan untuk dibaca. Tapi, tidak berarti nihil nilai substansial. Murakami mengajak pembaca ikut serta menyelami renungan-renungan dalam berbagai hal. Apa yang disampaikan Haruki dalam buku ini merupakan pengalaman pribadi yang dilaluinya sendiri. Karenanya, apabila orang bijak pernah berujar jika penderitaan merupakan sebuah pilihan, hal itu memang benar adanya. Ia bisa merasakan segala penderitaan yang telah dipilihnya. Ia menganggap apa yang dilaluinya tidak bisa dijadikan pelajaran bagi setiap orang. Membaca buku ini sungguh memberikan kita kesempatan untuk merenung. Seperti saat setelah kita mendengarkan seseorang bercerita mengenai kehidupannya serta pelajaran apa yang telah ia petik dari hal itu.


Salbiah

An eternal student, an absolute thinker, and an everlasting fangirl. 

 

 

 


 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *