Bersenggama dengan Kesepian

Adalah keniscayaan apabila manusia merasakan kesendirian. Lebih mencekik lagi bila kesendirian menjelma menjadi kesepian. Keduanya hanya berbatas sekat tak kasat mata yang mau tidak mau setiap manusia pasti akan melewatinya. Agak mengherankan bila kesepian masih berjarak padahal lautan manusia di dunia ini tak ada kurangnya. Barang kali kesepian telah mengikatkan dirinya pada manusia. Seberapa jauh pun kita berupaya untuk menghindar, kesepian akan selalu hadir dalam kehidupan kita. Entah kapan dan bagaimana wujudnya.

Sering kali, manusia mencari jalan keluar agar terbebas dari perasaan ini. Salah satunya dengan berharap orang lain dapat berempati terhadap apa yang sedang dialaminya. Tapi, kenyataan pahit adalah tidak ada orang yang bisa sepenuhnya memahami orang lain. Mereka dapat mendengarkan maupun memberi saran.  Kata-kata manis yang disampaikan tetap saja tidak memberi jalan keluar. Kesepian mulai menerjang lebih kuat. Perasaan terasing, tersingkir, dan terbuang pun akan datang.

Sebenarnya masa tersebut merupakan titik yang paling penting bagi manusia. Sebab pada saat itu, kita memiliki lebih banyak waktu dengan diri sendiri. Ini bisa jadi saat yang tepat bagi kita untuk bersenggama dengannya. Di luar sana, memang bisa jadi ada orang yang dapat memahami diri kita, mungkin kita belum menemukannya, atau bahkan kita sudah terlewat olehnya. Tapi pasti mereka tidak lebih tahu dari diri kita.

Tidak ada salahnya untuk memberi ruang sepi dalam diri ini. Ruang untuk mulai mengenali, memahami, dan memaklumi diri kita . Proses ini akan sesungguhnya memberi kemudahan untuk menerima segala yang terjadi di dalam hidup ini, termasuk menerima perasaan kesepian itu. Kita pun tidak akan merasa asing lagi dengan perasaan kesepian yang memang sangat lekat dengan realitas ini.

Melalui tulisan ini, saya ingin menyampaikan, jangan takut akan kesendirian. Jangan juga menyangkal kesepian. Terima mereka apa adanya. Sambutlah dengan suka cita. Toh, saat lahir kita sudah sendirian. Mati nanti pun demikian. Mungkin memang seperti itu manusia diciptakan.

Terima saja rasa itu apa adanya. Namun jangan tenggelam didalamnya. Mereka yang ada bersama kita mungkin memang hanya ilusi semata. Tapi apa salahnya untuk bercengkrama dengannya. Mungkin tidak bisa selama. Tapi asalkan hari ini bahagia, apa salahnya.


Salbiah

An eternal student, an absolute thinker, and an everlasting fangirl.

 

 

 


 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *