Mendalami Kehampaan bersama Murakami

Haruki Murakami adalah salah satu penulis Jepang paling konsisten dalam memilih tema di tiap karyanya. Dari musik jazz, kucing, bir, rokok, sampai kutubuku. Pun tokoh utama introvert, perempuan bergelayut kesedihan, dan percintaan menyedihkan merupakan ciri khas Murakami. Tak jarang sebagian pembaca merasa bosan dengan kemiripan tema tersebut. Tapi, boleh jadi justru inilah kelebihan Murakami.

Salah satu karya awal Murakami sebagai penulis adalah Dengarlah Nyanyian Angin. Buku cerita ringan ini tergolong tipis dan enak dinikmati pada waktu senggang; sederhana, renyah, dan tak terlalu serius. Cara Murakami berkisah membuat novel berbumbu filosofis ini mudah dicerna sekaligus menjadi pelepas stres.

Kisah ini bergulat dengan kekuatan karakter. Tokoh bernama Aku, pemuda berusia awal 20-an, berlibur musim panas selama tiga minggu di sebuah kota kecil tempatnya tinggal. Ia bertemu karibnya bernama Nezumi, laki-laki kaya pembenci orang kaya dan pencinta alkohol. Sang pemuda juga bertemu perempuan muda dengan sembilan jari yang bekerja di toko kecil yang menjual piringan hitam. Tiap karakter memiliki kisahnya yang kuat. Alur dalam novel ini disusun acak dan kreatif sesuai keinginan narator. Pembaca seakan diajak berbicara dan berinteraksi dengan para tokoh.

Saat membaca buku ini, saya bisa ikut bergumul bersama Aku dalam tiap momen hidupnya. Melawan kesepian, kesendirian, dan keputusasaan yang menghampiri hidup kita tanpa sebab yang jelas. Novel ini sejatinya secara sederhana mampu mendeskipsikan kegalauan anak muda dengan sekelumit permasalahan yang sering berada di tengah kita. Usia di mana manusia berusaha untuk mencari jati diri serta menentukan arah hidupnya memang selalu menarik untuk diceritakan. Saya sangat menyukai kesederhanaan buku ini dan kelekatan emosional yang dialami oleh tokoh dengan kehidupan kita sehari-hari. Tidak ketinggalan kutipan-kutipan dalam narasi yang membuat kita bisa berusaha untuk berpikir ulang dan menemukan setiap makna di baliknya.

Hidup adalah kehampaan. Namun tentu ada pertolongan. Sebab pada awalnya hidup bukanlah sesuatu yang benar-benar kosong. Sesungguhnya, kita menumpuk kesengsaraan di atas kesengsaraan lalu dengan susah payah berusaha mengikis kesengsaraan itu sehingga hidup pun menjadi kosong. (hal.91)

Dengarlah Nyanyian Angin


Haruki Murakami

Jakarta; KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2018 Cetakan

Ketiga 
iv + 119 hlm; 13,5 cm x 20 cm

ISBN: 978-602-424-407-1

 


Salbiah

A type B. 

 

 


 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *