Menulis Kebijaksanaan

Apa yang kamu cari ketika menulis kebijaksanaan? Secangkir kopi, segelas teh, sebatang pena, dan secarik kertas? Apa kebijaksanaan sesederhana itu?

Menoleh ke banyak hal yang mungkin saya secara pribadi terus mencari di mana itu kebijaksanaan. Apa yang disebut bijaksana, bagaimana sebuah perbuatan dapat dikatakan bijaksana. Benarkah bijaksana itu sama seperti adil?

Yang saya tau kebijaksanaan adalah ketika kedewasaan beriringan dengan kepekaan empati.

Ah, sudah saja. Kedewasaan itu bukan terletak pada usia. Lantas? Ada yang bilang kedewasaan itu adalah ketika kemarahan diubah menjadi keramahan. Tapi saya tak setuju. Kedewasaan itu ketika kamu ingin, namun mengalah karena ada hal yang harus didahulukan. Kedewasaan itu adalah ketika kamu bisa berbuat semaumu, namun kamu menahan. Kedewasaan itu adalah ketika kamu bisa, namun mengikhlaskan demi orang lain bahagia.

Lalu apa itu empati? Ketika kamu sudah bisa merasakan atau memposisikan diri kamu sebagai orang lain, serta bisa meletakan kacamatamu di posisinya. Jangan semata-mata memaksaan kehendakmu. Lantas berkata, “Aku mengerti posisimu.” Bukan. Bukan itu. Empati lebih dari itu.

Kembali lagi, saya sedang berbicara tentang kebijaksanaan.  Silakan merenungkan kembali apa itu


Dieni A. Zamzamy

A Sapiophile, a librocubicularist, and a perpetual dreamer.

 

 


 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *