Ulasan Crazy Rich Asians

    Judul : Crazy Rich Asians Judul Terjemahan: Kaya Tujuh Turunan Pengarang: Kevin Kwan Penerjemah: Cindy Kristanto Bahasa : Indonesia Penerbit : Gramedia Tebal : 480 halaman Diterbitkan pertama kali : Juni 2016 Format : Paperback Target Pembaca : Dewasa Genre : Chiclit Series: Crazy Rich Asians, #1 Pembahasan mengenai ‘orang kaya’ tampaknya sangat menarik untuk disajikan saat ini. Bagaimana tidak? Beberapa tahun belakangan ini sering kita jumpai segelintir orang yang dengan maksud dan tujuan tertentu sengaja memamerkan barang-barang serta aktivitas yang bisa dinilai ‘tidak murah’ melalui media sosial yang dimilikinya. Tidak dapat disalahkan jika pengguna media sosial lainnya menganggap mereka adalah ‘orang kaya’. Topik ‘orang kaya’ beserta kebiasaan-kebiasaan yang meliputinya menjadi bahasan utama dalam buku Crazy Rich Asian milik Kevin Kwan. Kwan juga mengangkat topik orang Asia, yaitu masyarakat beretnis Cina, yang memiliki budaya unik untuk kita ketahui. Crazy Rich Asian bercerita tentang bagaimana kehidupan keluarga-keluarga keturunan etnis Cina yang super kaya. Cerita dalam buku ini berpusat pada Rachel Chu yang menyetujui untuk menghabiskan liburan musim panasnya bersama sang pacar, Nicholas Young (Nick), ke Singapura. Selain untuk berlibur, perjalanan ke Singapura tersebut juga bertujuan untuk menghadiri pesta pernikahan yang diselenggarakan oleh sahabat Nick, yaitu Colin Khoo serta untuk memperkenalkan Rachel kepada keluarganya. Rachel membayangkan keluarga Nick yang ramah dengan rumah yang sederhana, jalan-jalan keliling pulau, dan menghabiskan waktu bersama pria yang mungkin akan menikah dengannya di masa depan nanti. Ia tidak mengetahui siapa Nick sebenarnya dan dari keluarga mana ia berasal. Kenyataan yang terjadi justru malah sebaliknya. Tidak pernah terbayangkan oleh Rachel bahwa Nick merupakan pria incaran setiap wanita se-Asia dengan bergelimang harta serta kemewahan lainnya. Rachel pun otomatis menjadi musuh bagi setiap wanita yang menginginkan Nick. Mereka pun merasa penasaran, iri, dan tidak jarang mecibir Rachel yang mampu menaklukan seorang Nicholas Young ke dalam pelukannya. Hal tersebut menyebabkan keluarga Nick beserta teman-temannya yang merupakan orang-orang dari kalangan kelas atas berusaha mencari tahu latar belakang Rachel termasuk garis keturunan yang dimilikinya. Dari hal inilah berbagai persoalan mulai muncul. Selain itu, perjalanan ini juga mengantarkan Rachel untuk mengenal Astrid, si It Girl Singapura; Eddie, yang keluarganya jadi penghuni tetap majalah-majalah sosialita Hongkong; dan Eleanor, ibu Nick, yang punya pendapat sangat kuat tentang siapa yang boleh dan tidak boleh dinikahi putranya. Buku ini menarik untuk dibaca karena di dalamnya kita akan diajak untuk mencermati mengenai karakteristik masyarakat etnis Cina serta pada kelas sosial mana mereka berada. Meskipun mereka berasal dari etnis yang sama dan memiliki label ‘orang kaya’, hal tersebut tidak menutup adanya pembagian kelas sosial dalam masyarakat tersebut. Kita juga diajak untuk mengenal perbedaan antara golongan Orang Kaya Lama dan Orang Kaya Baru, serta antara Cina Peranakan dan Cina Daratan dengan sentimen yang dimiliki oleh satu sama lainnya. Secara ringan melalui dialog antar tokoh, dijelaskan yang membedakan Cina Peranakan dan Cina Daratan; ​“Yang pertama-tama kau harus mengerti bahwa ada dua jenis orang Cina. Ada Cina Daratan yang mendapatkan kekayaan dalam dekade terakhir seperti semua orang Rusia, dan ada orang Cina Peranakan. Mereka adalah orang-orang yang meninggalkan Cina lama sebelum komunis masuk, malahan banyak yang sudah ratusan lalu, menyebar ke segala penjuru Asia, dan diam-diam mengumpulkan kekayaan dalam jumlah besar seiring jalannya waktu.” Laurent, hal. 48-49. Selain itu, buku ini memberikan gambaran mengenai kemewahan-kemewahan yang hanya bisa dinikmati oleh orang-orang super kaya saja seperti rumah yang bagaikan istana, barang-barang bermerek, selera fashion yang tinggi, tempat hiburan eksklusif, makanan, serta karya seni dan arsitektur mewah lainnya. Kita juga akan diperkenalkan dengan brand-brand mewah dan selera high fashion yang biasa digunakan oleh orang-orang kaya serta bagaimana mereka mendapatkan uang dan juga menghabiskan uang demi memenuhi kebutuhan selera tersebut. Tidak hanya itu, buku ini pun menyebutkan beberapa jenis pesta eksklusif dengan sederet kemewahan mulai dari kendaraan, jamuan, serta fashion yang dikenakan oleh para tamu yang tentunya eksklusif pula. Penulis pun berusaha untuk membenturkan pandangan kita mengenai orang-orang super kaya Cina dengan berbagai macam tradisi yang dijalaninya, seperti bagaimana mereka mengatur masalah pendidikan anak, pernikahan, serta garis keturunan. Untuk masalah pendidikan misalnya, masyarakat yang termasuk dalam kelompok masyarakat paling elit di Singapura biasanya akan mengikuti alur kehidupan yang sama dan sudah ditentukan sejak dini. Mereka biasanya didaftarkan pada sekolah elit seperti Sekolah Putri Methodist, Sekolah Cina Putri Singapura, atau Biara Bayi Yesus Kudus, dan lain sebagainya. Pada jam-jam setelah pulang sekolah, mereka akan disibukan dengan berbagai macam kegiatan seperti ujian mingguan materi sastra klasik, kalkulus multivariable, biologi molekuler, serta kursus piano, biola, flute, balet, berkuda pada akhir pekan, dan beberapa jenis aktivitas Persekutuan Pemuda-Pemudi Kristen. Jika prestasi mereka cukup bagus, mereka akan masuk ke National Univeristy of Singapore (NUS) dan jika tidak, mereka akan dikirim ke Inggris karena perguruan tinggi di Amerika dianggap kurang bermutu. Hal lain yang menarik adalah mereka hanya diperbolehkan diterima pada jurusan kedokteran dan hukum atau yang paling rendah adalah akuntansi dengan syarat lulus dengan penghargaan (kurang dari itu akan membuat malu keluarga). Masalah pernikahan pun dinilai sangat penting bagi kelangsungan kehidupan mereka. Maka hal yang lumrah jika pernikahan telah diatur sedemikian rupa sehingga kedua belah pihak dapat mendapatkan manfaat dari pernikahan tersebut serta mempertahakan kekayaan yang telah dimilikinya. Pernikahan pun sangat erat dengan garis keturunan. Bagi masyarakat Cina, garis keturunan merupakan hal yang krusial. Garis keturunan merupakan cara untuk melihat setiap orang dalam menempati tempat spesifik di tingkat sosial yang telah tersusun dalam masyarakat tersebut. ​“… setelah mengetahui nama dan tempat mereka tinggal, dia akan menerapkan algoritme sosialnya dan memperhitungkan secara tepat posisi mereka dalam konstelasinya, berdasarkan siapa keluarga mereka, dengan siapa lagi mereka memiliki hubungan kekerabatan, berapa besar kira-kira kekayaan bersih mereka, bagaimana kekayaan itu didapat, dan skandal keluarga apa yang mungkin terjadi dalam lima puluh tahun terakhir.” Eleanor, hal.61. Sebuah buku yang tidak hanya mampu menghibur pembacanya, tapi juga mengajak pembaca untuk mampu memahami tradisi masyarakat yang terbilang cukup unik ini. Penulis juga mampu menyajikan suatu bentuk satire yang secara halus mengkritisi gaya hidup masyarakat eksklusif tanpa memandang rendah budaya-budaya yang dijalaninya. Buku ini bukan hanya sekedar dongeng Cinderala semata, namun juga mampu membuka mata kita untuk memahami permasalahan-permasalahan yang dihadapi masyarakat super kaya beretnis Cina melalui sudut pandang mereka.

Lubrocubicularist

Adalah pembaca di tempat tidur (lubrocubicularist) dengan gaya tengkurap, duduk bersandarkan bantal, atau berbaring telentang dengan buku terbuka.

Write a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *